08 Mei 2009

Banyak Merah di Bajunya

Sudah lama aku jatuh cinta kepadamu, dan aku tak bisa bangkit lagi. Aku tahu kamu juga. Tetapi kamu pintar menyembunyikan sesuatu.
“lihatlah, rosa. Cincin ini sudah empat generasi di keluargaku, eyang buyut kettib anom haji mutamakin khusus memesannya dari klaten seabad yang lalu, diwarisi oleh eyangku, kemudian ibuku, kemudian aku. Seluruh handmade. Cincin begini tidak ada lagi yang membuatnya. Memang berliannya tidak halus, sengaja tidak diasah, namanya inten prongkolan, cicinnya juga bukan emas, ini swasa, orang menyebutnya emas jawa, dengan swasa berlian jadi lebih bercahaya. Aku ingin memberikannya padamu”.
Kamu memegang cincin itu, menelitinya seperti pedagang. Kemudian mencobanya di jari manismu. Menciumnya berberapa kali dan melepasnya kembali. Setelah itu terdiam lama sekali kamu bertanya
“Mengapa ?”
“sebenarnyalah aku mencintaimu sejak lama,” aku tak berani menatapmu. “ mengapa ?” tanyamu lagi.
“me-nga-pa? aku sendiri taktahu. Aku mencintaimu begitu saja. Kamu cantik, rambutmu bergelombang, pipimu gemuk, pintar, berani, galak, dan terkenal. Tapi gadis itu juga banyak bukan ? jadi me-nga-pa ? maafkan aku. Kalau kamu tidak suka, lupakanlah.”
Kamu tertawa berderai-derai. Lalu kamu cepat sekali mencium pipiku. “ simpan kembali. Jika kelak kita menikah, aku inignn memilikinya .” dengan cara seperti itulah kamu menyatakan cintamu. Kemudian hari-hari berlalu hamper tanpa perubahan. Kita dikirim dari tempat ke tempat lain, mengikuti peristiwa. Reportasemu menjadi trademark bagi program hot news. Tiada berita tnpa rosa. Produser dan redaktur memujimu. Slot iklan cepat sekali habis dalam dollar, mengalahkan telenovela, dan kemudian, semuanya tinggal kenangan, menyedihkan, sudah lama aku tidak lagi di lapangan, menyandang kamera seperti dulu. Setelah peristiwa itu, aku memutuskan berhenti. Bekerja dengan kamera berate mengenangkan terus menerus kenangan pilu itu. Sekarang aku mengajar dan sekolah lagi. Pekerjaan yang tidak menghasilkan bnyak uang. Tetapi aku menyukainya, paling tidak berusaha menyukainya. Sekiranya dulu kita bekerja di sinetron, mungkin kejiannya tidak seperti ini. Dalam sinetron juga ad pembunuhan-pembunuhan, sama tidak masuk akalnya, tetapi semua hanya bohong-bohongan.
Aku berusaha melupakanya. Tetapi tidak bisa. Setiap menonton telivisi, kamu juga yang nampak disana memegang mikrofon dan berbicara kepada pemirsa. Rambutmu yang bergelombang, pipimu yang gemuk, baju putihmu, elana jinsmudan pesona cinta di kafe itu.
Perubahan setenah hati. Itulah yang sering kamu katakana mengenai reformasi itu. Masa transisi ini tidak akan selesai-selesai sebab deadline-nya tidak menetu. Juga kita pun misalnya, mengimpor pemimpin dari luar negri. Sudah. Pemimpin kita semuanya alumni luar negeri.kesalahan kita hanyalah : kita terlalu banyak kompromi. Dan lihatlah katamu, mereka yang dulu namanya seperti karitni begitu duduk di posisi, perilaku tidak di pahami. Banyak eksperimen-eksperimen mereka yang berbahaya, dan celakanya, hanya dilandasi dengan mimpi. Setiap hari mereka mengigau untuk tetap menempati posisi sampai akhir hayat di kandung badan, bahkan dengan mengorbankan apa saja yang bias di korbankan. Meskipun tidak patut.
Pada masa itu, dan selanjutnya, kerusuhan dalah tema berita kita sehari hari. Dengan sadar kita menjadi bagian dari semua yang tidak kita hendaki itu, hasil dari niat dan tekat yang setengah setengah. Dalam situasi seperti ini, tanpa alasan apa pun orang bias salin membunuh. Kita dikirim di pulau itu, karena peristiwanya sedang ada disana. Kita beruntung kita bias menebeng helicopter polisi. Dari atas kita bias melihat juga para pemirsa televisi, rumah-rumah yang terbakar membentuk jamur-jamur asap. Jalanan penuh dengan orang yang beerlarian, seperti beras di tampian, bangkai manusia berserakan tak terurus. Truk-truk mengangkuti pengungsi ke pelabuhan. Tentara ada di mana-mana. Kerusuhan paling besar dan paling tidak beraturan yang pernah kita liput. Bahkan mungkin lebbih mengerikan dibandikan Balkan. Mulai dermaga itu, dan memang pusat peristiwa itu da di situ, sampai ke pusat kota. Kapal pengungsi bersiap mengevakuasi pengungsi.dari situ kita menddapatkan cerita-cerita yang tidak masuk akal. Ini benar-benar sperti mimpi, katamu. Kamu bekerja penuh gairah dengan nafsu investigasi. Peluh membasahi pilipismu. Dan kita tahu bahwa orang orang di Jakarta hanya berbicara tentang slot iklan. Kita on live.
“rosa di pulau bersamajuru kamera…. Saudara, kerusuhan yang ada di pulau sampai sekarang belum ada tanda tanda akan mereda. Menurut penguasa darurat sipil setempat, awal mula terjadinya kerusuhan antar etnis dan agama ini….”
Aku sukaa meng close up mu. Terutama ketika wajahmu kemerahan terkena terik matahari. Bibirmu yang penuh nampak indah sekali, seperti tomat matang, membuatku segan mengalihkan arah kamera. Sejujurnya. Setelah kamu menciiumku di kafe itu, kaaku ingin membalasmu. Mendekapmu dan memikirkan lain-lain selebihnya yang memalukan, sementara kamu berkonsentrasi menyampaikan informasi dari balik kameraaku mengintaimu.
Tiba-tiba kamu berteriak :” fahri! Lihat! putar kameramu! “ aku memutar kamera dan menyorot segerombolan orang berjibaku saling memusnahkan. Senjata tajam di ayun-ayunkan ke udara. Cres-cres-cres! Tentara menyebar dan menembak. “ lebih dekat lagi,” katamu “tidak!” jangan rosa! Ini sudah sangat berbahaya!” “ ayolah, kamu akan mendapatkan gambar gambar hebat!”
Kamu tak bias dicegah lagi. Dan kemudian seperti yang aku takutkan, kita terjebak di tengah huru hara. “ minggir rosa! Lari! Lari!” kita sudah terlambat. Sambil berlari undur, aku berusaha mendapatkan gambar gambar itu. Lalu dor dor dor itu. Kamera terpental berantakan. Telingaku seperti meledak. Kemudian ku lihat banyak merah di bajumu. Kamu terhuyung huyung sebelum terjatuh, aku menyambarmu. Darahmu mengalir dari punggungmu ke sela jari jari ku. Tetapi kamu masih sempat meraih mikrofon itu.
“ dapat gambarnya, ri ?” itu lah kalimat terakhirmu. Ampai di rumah sakit kamu sudah seputih kapas. Empat hari kemudian kamu mati. Studio dipenuhi karangan bunga, juga dari panglima. Seandainya segera saja aku memaksamu menyingkir begitu dor yang pertama itu, mungkin aku tidak duduk menyendiri di pojok studio dengan mata sembab. Maaf rosa, aku terpaksa menangis. Semua teman wartawan dating melepas kepergianmu. Hari itu wajahmu menghiasi halaman depan Koran-koran.
Dengan riasan pengantin kamu cantik berlipat kali, terbaring diam, untaian salib terjalin di tanganmu. Aku dating ke gereja menyaksikan misa requiem untukmu.sangat megah, sangat indah. Doa yang dinyanyikan itu membuatku pilu, perih, sepi.
Sisa mikrofonmu ditaruh dalam kotak kaca dan dipamerkan di lobi studio. Di dalamnya ada plakat dari tembagayang menerangkan mengenai peristiwa itu . studio VI, setempat ditayangkan, sekarang berganti namamu : studio rosa, pasti kamu tidak menyukainya. Sudah ratusan orang mati dalam kerusuhan itu, tidak pernah ada plakat, dan masih akan menyusul ratusan lagi.perlatan kita akan diganti oleh penguasa, meskipun itu tidak perlu. Karena semuanya telah disuransikan. Telinga kananku sobek, enam belas jahitan, pecah di dalam dan tuli untuk selamanya. Tidak ada yang bias mengganti, oleh mereka aku di tawari macam-macam, rumah, mobil, naik haji, dan apalagi kalau bukan uang dan uang. Aku tidak mau rosa, aku tidak mau. Kehilangan ini tak akan terganti. Cintaku kepadamu, seperti di dalam lagu, tak akan pernah mati.
Kamu menjelma jadi berita. Dengan hikmat, polisi berjanji di depan teman teman wartawan, untuk mengusut kejadiannya. Sejak semula aku pesimis, aku ditanyai seperti pesakitan. Aku bersumpah berkali kali bahwa itu bukan peluru nyasar juga bukan sekedar “ kesalahan prosedur”. Sama sekali bukan. Kamu sudah diincar sejak lama. Beritamu membuat semua orang tidak enak makan. Tetapi kemudian, seperti sudah, kasus kasus yang lebih besar menutup kasus mu ini. Pemred kita, rosa. Pemred kita yang telah kita anggap sebagai guru dalam jurnalistik dan idealisme, telah melakukan sejumlah kompromi kompromi dan itu berarti konsensi konsensi. Kasusmu masuk dalam the x file.
Ada tiga puluh orang pengacara, teman teman kita juga. Dating kepadaku berbicara panjang lebar tentang menutut polisi dan pemred kita. Mereka disponsori asosiasi, dank arena itu tidak perlu dipikirkan soal biaya, dan hanya dibutuhkan partisipasiku saja. Aku sudah sangat capek. Dulu pernah kita perjuangkan kasus yang serupa, tidak serumit kasusmu ini, berakhir pada jalan buntu. Jadi apalah arti semua omong kosong ini bila kau tetap mati. Penghiburanku sekarang ini hanyalah, aku tak jadi bertengkar dengan keluargaku karena menikahimu.



oleh :
Agus fahri husein
Lahir dibuleleng(bali), 28 februari 1964.
Pernah kuliah di fakultas ugm hingga tamat s1(1994)
Pernah bekerja sebagai wartawan dan editor buku di jogjakarta dan Jakarta
Menerjemahkan buku dan menulis kritik seni rupa.

Menulis cerpen sejak 1981 diantarnya :
* Antologi hijrah ( jamaah salahhudin ugm jogjakarta 1985)
* Antologi terompet terbakar (jamaah salahhudin ugm jogjakarta 1990)
* Antologi ambang (festival kesenian daerah DIY 1992)
* Diverse lives contemporary stories from Indonesia ( translate by jeanette lingard, oxford university press, 1995)



Majalah HORIZON
Terbit bulanan, tahun XXXV, no 7/2002
Juli 2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar