24 Desember 2008

Tentang Taufiq Ismail - 1

Krismansyah Rahadi (1949-2007)

KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA
Taufiq Ismail

Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, “Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah abang tolong tuliskan liriknya?” Karena Saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi yang relijius.

Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, “Chris, maaf ya, macet. Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu.

Saya mempunyai kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 65, yang berbunyi, A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim, “Alyauma nakhtimu ‘alaa afwahihim, wa tukallimuna aidihim, wa tasyhadu arjuluhum bima kaana yaksibuun,” saya berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!

Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagu tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik tersebut selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon, “Chris, alhamdulillah selesai,” Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris, Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye – Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye : Lirik yang dibuat Taufik Ismail adalah satu-satunya lirik terdahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan seluruh tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik tersebut. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan. Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respon saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu.
Taufik memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq, dan menceritakan kesulitan saya.

Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65 …, kata Taufiq. Saya menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya.

Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang karier saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!

Butuh kekuatan untuk menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya.

Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang. Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi bila Anda sekarang mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang. Jangankan menyanyikan lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari.

Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.

KETIKA TANGAN DAN KAKI BERKATA

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu
Yang hina

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan airmatanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.

Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikan dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitifnya dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.


***

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk liik tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa, bang, kurang?” Saya katakan, bukan itu soalnya. “Jadi kenapa?” Saya jelaskan bahwa sebenarnya saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan itu. Saya Cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surat Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan merasa bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya. Kami berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya, Chrisye menemukan jalan keluar. “Begini saja bang. Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun pada Allah. Tuhan Maha Pngampun, kan?
Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.


***

Pada subuh hari Jumat, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi lengendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih masuk keluar rumah sakit, termasuk berobat ke Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan istri, Yanti dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha, dan Masha, 9 album proyek, 4 album soundtrack, 20 album solo, dan 2 filem.
Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin.


***

DARI SAHABAT UNTUK CHRISYE
Taufiq Ismail

Suaramu yang begitu syahdu dan merdu
Telah lebih dari 30 tahun merasuk kalbu
Mulai usia remaja, dewasa sampai berangkat tua
Kau sampaikan kepada kami berjuta getaran nada
Melalui instrument meneruskan indahnya bunyi

Terima kasih Chrisye, maestro santun si lembut hati
Untuk sebuah bangsa engkau telah menyanyi
Yang suka dukanya kau suarakan dengan merdu sekali
Kini engkau pergi, betapa sedih istri anak dan sahabat
Semoga engkau tenang di akhirat mendapat istirahat
Di Raudhatul Jannah, disambut lagu merdu para malaikat

“Disadur dari Majalah Horison – Edisi V, 2007”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar