02 Januari 2009

Tentang A. Mustofa Bisri - 1

BANYAK YANG TINGGAL
(A. Mustofa Bisri)

Banyak yang tinggal di gedung beratap beton
Menimbun rongsokan berton-ton
Banyak yang tinggal di emper-emper sempit dipeluk langit
Menjumputi remah-remah hidup yang pahit
Banyak yang tinggal di tenda-tenda
Menunggu kemelut reda
Aku tinggal di awang-awang
Ah, hanya bisa nyawang

(Rembang, November 2006)


TENTANG DUA ORANG KAYA DAN MISKIN
(A. Mustofa Bisri)

Tiba-tiba oleh satu dan lain hal orang kaya itu menjadi miskin
Orang-orang yang semula merubungnya bagai lalat pun berhamburan menghindar membiarkannya
Sendirian mencicipi lapar dan derita yang selama ini tak pernah menghampirinya
Lama tak ada yang menghiraukannya tak ada yang peduli ia hidup atau mati
Hingga akhirnya terlupakan sama sekali
Lalu kesendiriannya menggiring dirinya kepada-Nya yang selama ini ia abaikan
Dan kini satu-satunya yang memberikan kedamaian
Yang tak pernah ia rasakan sebelumnya
Ia pun bersyukur sesyukur-syukurnya karena merasa paling kaya di dunia

Tiba-tiba oleh satu dan lain hal orang miskin itu menjadi kaya raya
Orang-orang yang selama ini menghindarinya pun bagai laron menghambur mendekatinya ingin membantu menghabiskan remah-remah kenikmatan yang berceceran di sekitarnya
Lama dielu-elukan orang hingga ia merasa memang pantas dielu-elukan lalu dilupakannya semua
Yang pernah menjadi tambatan hatinya termasuk Dia yang pernah ia tangisi selama ini
Yang ia mintai kekuatan di saat-saat tak berdaya
Ia pun dibiarkan-Nya mencicipi nikmat-nikmat sesaat
Menunggunya ingat atau tersesat hingga sekarat

(Syawal 1427)


MATAHARI RINDU NABI
(A. Mustofa Bisri)

Matahari
Masih hilirmudik
Seperti dulu
Mengawali dan mengakhiri
Hari-hari
Namun kini semakin terik
Cahayanya masih
Mengingatkan wajahmu yang cantik
Panasnya mengingatkan semangatmu

Namun kini umat
Seperti tak merasakan lagi rahmatnya
Seperti melupakan rahmatmu
Panasnya mendidihkan kepala yang lelah
Mengobarkan khotbah-khotbah
Melayukan girah terhadap kaum lemah

Matahari panas merindukanmu
Mungkin lama mencari tak temu
Secercah pun senyummu
Bahkan di tempat-tempat kesukaanmu
Di tengah-tengah gerombolan orang-orang papa
Kau tak berjumpa

O, malangnya umat
Yang meninggalkan nabinya
Tak tahu membedakan antara kepintaran dan kebodohan
Karena semuanya menghalalkan kesalahan
Tak mampu memilih antara miskin dan kaya
Karena yang kaya tak berdaya
Yang miskin terpaksa

Di sini matahari semakin panas
Kebodohan semakin ganas
Kemiskinan semakin tak waras
Keserakahan menggurita
Kedtidakpedulian merata
Ketidakberdayaan semesta

Matahari
Sepertimu aku kepanasan sendiri
Merindukan nabi

(Syawal 1427)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar